Tari Dana-dana adalah tari pergaulan remaja yang sampai saat ini
masih berkembang di Daerah Gorontalo dan tarian dana-dana itu sendiri masih eksis sampai skarang di maluku utara.
Dungan Tanali adalah petikan gambus dari Gendang Marwas. Syair pantunnya
berisi pesan-pesan pembangunan yang dapat disimak oleh penonton! .sedang di situs www.bi.go.id pada profil Maluku utara, tertulis sbb:
Tarian Dana-Dana
Salah satu tarian khas Maluku Utara yang biasanya ditarikan
pada saat hajatan berupa acara perkawinan atau pesta rakyat. Keunikannya tari
ini didominasi oleh gerakan-gerakan yang dinamis mengikuti irama musik berisi
pantun bertemakan percintaan dan di lakukan oleh pasangan pria dan wanita yang terdiri dari 5 pria dan 5 wanita.
jadi begitu, mungkin itu hanya kebetulan saja, bahwa namanya sama
yakni: Dana-dana. apapun demikian kita harus tetap menjaga kelestarian budaya
bangsa kita sendiri jangan sampai punah budaya-budaya di maluku utara karna banyak di maluku utara begitu banyaknya tarian-tarian yang ada di maluku utara.
Tarian perisai ini berasal dari Negeri Ema , Provinsi Maluku
biasa digunakan dalam acara penyambutanatau acara-acara adat di Negeri Ema. Tarian Perisai yang dibawakan ini sudah dimodifikasi menjadi tarian yang moderen yang digabungkan dengan Tarian Bambu Gila, dimana tanpa mengurangi Ciri Khas dari tarian tersebut.
Cakalele adalah tarian perang tradisional Maluku yang digunakan untuk menyambut tamu ataupun dalam perayaan adat. Biasanya, tarian ini dibawakan oleh 30 pria dan wanita. Tarian ini dilakukan secara berpasangan dengan iringan musik drum, flute, bia (sejenis musik tiup).
Para penari pria biasanya mengenakan parang dan salawaku (perisai) sedangkan penari wanita menggunakan lenso (sapu tangan). Penari pria mengenakan kostum yang didominasi warna merah dan kuning, serta memakai penutup kepala aluminum yang disisipi dengan bulu putih. Kostum celana merah pada penari pria melambangkan kepahlawanan, keberanian, dan patriotisme rakyat Maluku. Pedang atau parang pada tangan kanan penari melambangkan martabat penduduk Maluku yang harus dijaga sampai mati, sedangkan perisai dan teriakan keras para penari melambangkan gerakan protes melawan sistem pemerintahan yang dianggap tidak memihak pada rakyat. Sumber lain menyatakan bahwa tarian ini merupakan penghormatan atas nenek moyang bangsa Maluku yang merupakan pelaut. Sebelum mengarungi lautan untuk membajak pesawat, nenek moyang mereka mengadakan pesta dengan makan, minum, dan berdansa. Saat tari Cakalele ditampilkan, terkadang arwah nenek moyang dapat memasuki penari dan kehadiran arwah tersebut dapat dirasakan oleh penduduk asli.
Tari Lenso adalah tarian muda-mudi dari daerah Maluku dan Minahasa Sulawesi Utara. Tarian ini biasanya di bawakan secara ramai-ramai bila ada Pesta. Baik Pesta Pernikahan, Panen Cengkeh, Tahun Baru dan kegiatan lainnya. Beberapa sumber menyebutkan, tari lenso berasal dari tanah Maluku. Sedangkan sumber lain menyebut tari ini berasal dari Minahasa.
Tarian ini juga sekaligus ajang Pencarian jodoh bagi mereka yang masih bujang, dimana ketika lenso atau selendang diterima merupakan tanda cinta diterima. Lenso artinya Saputangan. Istilah Lenso, hanya dipakai oleh masyarakat di daerah Sulawesi Utara dan daerah lain di Indonesia Timur.
Dalam tarian ini, yang menjadi perantara adalah lenso atau selendang. Selendang inilah yang menjadi isyarat: selendang dibuang berarti lamaran ditolak, sedangkan selendang diterima berarti persetujuan
Provides information on the richness of Indonesian culture, especially its Cultural Arts Traditional Dance. Summarized as one of several sources in order to make knowledge for the many, as well as introducing a variety of dance culture in Indonesia, which is amazing.